Tari Pajaga Makkunrai di Kabupaten Wajo
Salah
satu tari tradisional yang ada di daerah Kabupaten Wajo yakni tari Pajaga
Makkunrai. Tari Pajaga Makkunrai merupakan tari tradisional klasik yang tumbuh
dan berkembang di istana kalangan bangsawan suku Bugis di Kerajaan Gilireng
beberapa abad lalu (Syahrir. dkk, 2005: 39). Kerajaan Gilireng merupakan salah
satu kerajaan Bugis pada era sistem pemerintahan berbentuk kerajaan beberapa
abad lalu, yang kemudian sekarang berdomisili di daerah Kabupaten Wajo.
Idwar
Anwar (dalam Nurwahidah, 2017:553) menerangkan bahwa “Pajaga merupakan
istilah dari bahasa Bugis yang terdiri dari dua kata yakni Pa dan Jaga.
Pa adalah orang yang melakukan jaga, sedangkan jaga adalah
siaga, mawas diri, dan jaga. Jadi Pajaga berarti siap-siaga, mawas diri
dalam mengembangkan tugas-tugas dan kewajiban sesuai dengan posisinya masing
masing di masyarakat”. Sedangkan kata makkunrai dalam bahasa Bugis
berarti wanita.
Tari
Pajaga Makkunrai merupakan tarian yang sangat sakral pada masa kerajaan. Tarian
ini hanya boleh ditarikan oleh gadis-gadis keturunan bangsawan yang cantik dan
masih perawan. Karena pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Bugis, seperti
Kerajaan Luwu dan Kerajaan Bone, seni tari wajib dipelajari oleh setiap kaum
bangsawan di istana dan rumah-rumah kaum bangsawan Bugis (Lathief,
1999/2000:39).
Namun,
runtuhnya bentuk pemerintahan kerajaan pada masa silam membawa perubahan besar
pada seni tari tradisional khususnya tari Pajaga Makkunrai. Tari Pajaga
Makkunrai akhirnya boleh ditarikan oleh semua kalangan dan tidak lagi menjadi
milik kalangan bangsawan saja. Meskipun demikian nilai yang terkandung di
dalamnya tetap menjadi patokan dalam berperilaku bagi masyarakat Bugis Wajo.
Tari
Pajaga Makkunrai merupakan tari yang dipergunakan dalam penyambutan tamu. Tari
Pajaga Makkunrai bermakna memberi penghormatan atau memuliakan, yang dalam
bahasa Bugis disebut mappakalebbi atau mappakaraja. Properti yang
digunakan dalam tari Pajaga Makkunrai Wajo yakni kipas dan selendang. Kedua
benda tersebut merupakan benda yang pada umumnya hanya digunakan oleh wanita.
Dalam tari Pajaga Makkunrai penggunaan kipas dan selendang untuk menyimbolkan
perempuan, sesuai dengan kata ‘makkunrai’ yang berarti perempuan pada
nama tari tersebut.
Tari
Pajaga Makkunrai Wajo ditarikan dengan penari berjumlah genap, baik enam,
delapan, maupun dua belas penari. Musik yang digunakan pada tari Pajaga
Makkunrai Wajo disebut genrang tellu (dalam bahasa Indonesia berarti
tiga gendang), namun hal tersebut tidak berarti secara harfiah yaitu iringannya
menggunakan tiga buah gendang, melainkan bunyi yang dihasilkan dari gendang
tersebut ada tiga macam yang disebut ma’tahang, mapparede’, dan mallacce’.
Adapun iringan yang digunakan pada tari ini yakni dua buah gendang, satu buah
gong, serta dilengkapi lea-lea dan ana’ beccing/bacing-pacing.
Selain itu pada tari Pajaga Makkunrai tersebut terdapat lagu atau syair yang
dinyanyikan yakni lambeko.
Berdasarkan
jurnal Analisis Gerak Pajaga Makkunrai Wajo (Nurwahidah, 2017), tari Pajaga
Makkunrai memiliki tujuh ragam gerak yakni ragam jokka pajaga yang
berarti jalan atau melangkah pajaga, ragam tudang mappakaraja yang
berarti duduk memberi penghormatan, ragam mappaleppa yang berarti
menepuk tangan, ragam mallebu mabbukka kipasa/pafi yang berarti
melingkar membuka kipas, ragam massango yang berarti bertanggungjawab,
ragam mallinrung yang berarti berlindung, dan ragam mattenre potto
yang berarti bertolak pinggang.
1. Ragam
Jokka Pajaga
a. Kedua
tangan mengepit sarung dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah.
b. Kaki
kanan melangkah ke depan membentuk sudut 45 derajat (serong kanan) dengan
posisi badan merendah.
c. Diikuti
dengan menyeret kaki kiri ke samping kaki kanan dengan posisi badan kembali
tegak.
d. Kaki
kiri selanjutnya melangkah ke depan membentuk sudut 45 derajat (serong kiri)
dengan posisi badan merendah.
e. Diikuti
dengan menyeret kaki kanan ke samping kaki kiri dengan posisi badan kembali
tegak.
f. Kaki
kanan kembali melangkah ke depan serong kanan seperti sebelumnya dengan posisi
badan merendah, kemudian diikuti kaki kiri yang diseret ke samping kaki kanan
dan posisi badan kembali tegak.
g. Kaki
kiri kembali melangkah ke depan membentuk sudut 45 derajat (serong kanan)
dengan posisi badan, lalu menyeret kaki kanan ke samping kaki kiri seraya
posisi badan kembali tegak.
2. Ragam
Tudang Mappakaraja
a. Penari
melakukan gerak dalam posisi duduk dengan posisi kaki kanan tegak di depan
badan sedangkan kaki kiri rebah di lantai.
b. Kedua
tangan diayun lurus ke depan sejajar bahu, kemudian melakukan gerak mapputara
pole laleng yang berarti kedua tangan di putar ke arah dalam dengan
sentuhan jari tengah.
c. Kedua
tangan diayun ke samping kanan, kemudian kembali melakukan gerak mapputara
pole laleng.
d. Kedua
tangan kembali ke depan lalu di tekuk menghadap ke bawah dengan posisi sentuhan
jari tengah.
e. Kedua
tangan diayun ke samping kiri kemudian kembali melakukan gerak mapputara
pole laleng.
f. Kedua
tangan kembali diayun ke depan sejajar bahu, lalu di tekuk menghadap ke bawah
dengan posisi sentuhan jari tengah.
3. Ragam
Mappaleppa
a. Penari
melakukan gerak dengan posisi tangan di depan dada, kedua punggung tangan
saling bertemu dengan posisi sentuhan jari tengah. Kaki kanan di langkahkan ke
arah kanan kemudian diikuti kaki kiri.
b. Kedua
tangan diayun ke samping badan seraya menyeret kaki kanan ke belakang kaki
kiri.
c. Kedua
tangan di putar dengan sentuhan jari tengah. Tangan kiri di ayun ke depan dada
dengan posisi ujung jari menghadap ke atas. Tangan kanan berada di samping
badan dengan posisi ujung jari menghadap luar.
d. Kaki
kiri melangkah ke arah serong kiri kemudian di ikuti kaki kanan.
e. Kaki
kiri melangkah ke belakang kaki kanan sehingga posisi badan berputar, di ikuti
kaki kanan melangkah ke samping kaki kiri.
f. Kedua
tangan bersentuhan di depan dada dengan posisi seperti menepuk.
4. Ragam
Mallebu Mabbukka Kipasa/Pafi
a. Pada
ragam ini penari melakukan gerak dengan menggunakan properti yakni kipas dan
selendang. Tangan kanan memegang kipas sedangkan tangan kiri mengapit
selendang.
b. Langkah
kaki dan posisi badan serupa dengan ragam mappaleppa.
c. Kedua
tangan di depan dada dengan posisi tangan kanan memegang kipas dengan posisi
ujung kipas menghadap ke bawah. Tangan kiri mengapit selendang dan ujung kiri
kipas.
d. Kaki
kanan melangkah ke samping kiri kemudian di ikuti kaki kanan.
e. Kedua
tangan di ayun ke samping badan seraya menyeret kaki kanan ke belakang kaki
kiri.
f. Tangan
kanan memegang kipas dalam posisi ujung kipas menghadap ke atas. Tangan kiri
diputar dengan sentuhan jari tengah sambil tetap mengapit selendang, lalu
tangan kiri ditarik ke depan sejajar dada.
g. Kaki
kiri melangkah ke arah serong kiri kemudian di ikuti kaki kanan.
h. Kaki
kiri melangkah ke belakang kaki kanan sehingga posisi badan berputar, di ikuti
kaki kanan melangkah ke samping kaki kiri.
i. Kedua
tangan kembali seperti pada posisi awal yakni kedua tangan di depan dada dengan
tangan kanan memegang kipas dalam posisi ujung kipas menghadap bawah sedangkan
tangan kiri mengapit selendang dan ujung kiri kipas.
5. Ragam
Massango
a. Kedua
tangan diayun silang di depan badan dengan posisi badan merendah.
b. Kaki
kanan melangkah ke samping menghadap ke kanan seraya tangan kanan di ayun ke
samping menempel pada pinggang dengan posisi kipas menghadap ke luar.
c. Kaki
kiri melangkah ke samping kaki kanan dengan tumpuan ujung jari kaki, di ikuti
dengan tangan kiri diayun ke depan lalu diputar dengan posisi ujung jari
tengah.
d. Kaki
kiri melangkah ke samping kiri di ikuti kaki kanan seperti membentuk lingkaran.
e. Kaki
kiri melangkah ke samping kanan melewati belakang kaki kanan sehingga posisi
badan menghadap ke kanan.
f. Tangan
kiri diayun ke samping sejajar bahu kemudian diputar dengan posisi ujung jari
menghadap ke atas.
g. Kaki
kanan melangkah melangkah membentuk lingkaran di ikuti kaki kiri. Posisi badan
kembali menghadap ke depan.
h. Tangan
kiri di putar ke dalam dengan sentuhan jari tengah, lalu ibu jari di letakkan
di pusar diikuti dengan ayunan kipas ke arah pusar dengan ujung kipas menghadap
ke bawah.
i. Kedua
tangan kembali diayun silang di depan badan dengan posisi badan merendah.
6. Ragam
Mallinrung
a. Penari
melakukan gerak dengan langkah kaki dan posisi badan sama seperti pada ragam massango.
b. Namun
yang berbeda pada ragam ini yakni jika pada ragam sebelumnya posisi kipas
berada di pinggang, dalam ragam ini posisi kipas berada di samping dahi dengan
posisi serong seperti menutupi wajah.
7. Ragam
Mattenre Potto
a. Kedua
tangan diayun silang di depan badan dengan posisi badan merendah.
b. Kaki
kanan melangkah ke samping menghadap ke kanan seraya tangan kanan di ayun ke
samping kanan dengan posisi kipas menghadap ke atas.
c. Kaki
kiri melangkah ke samping kaki kanan dengan tumpuan ujung jari kaki, di ikuti
dengan tangan kiri diayun ke depan lalu diputar dengan posisi ujung jari
tengah.
d. Kaki
kiri melangkah menghadap ke kiri dan di ikuti dengan kaki kanan.
e. Tangan
kiri memegang sarung dan tangan kanan yang memegang kipas berada di depan
sejajar perut.
f. Kipas
digerakkan dari depan perut menuju ke kanan badan kemudian kembali lagi ke
depan perut.
g. Kaki
kanan melangkah ke belakang menghadap ke depan di ikuti dengan kaki kiri.
h. Tangan
kiri diputar ke arah dalam dengan sentuhan jari tengah, kemudian ibu jari
diletakkan di pusar di ikuti tangan kanan dengan posisi kipas menghadap ke
bawah.
i. Kedua tangan kembali diayun silang di depan badan dengan posisi badan merendah.
Untuk
lebih jelasnya, dapat disaksikan melalui video berikut :
Khaerah, Miftahul. 2022 Bentuk Gerak Dasar Tari Pajaga Makkunrai Versi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wajo Dengan Sistem Notasi Laban. Makassar: Fakultas Seni dan Desain UNM. http://eprints.unm.ac.id/27493/
Lathief, Halilintar, & Sumiani,
Niniek. 1999/2000. Pustaka Wisata Budaya Tari Daerah Bugis. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional.
Nurwahidah. dkk. 2017. Analisis Gerak Pajaga Makkunrai Wajo. Jurnal. Makassar: Fakultas Seni dan Desain UNM. https://ojs.unm.ac.id/semnaslemlit/article/download/4096/2460
Syahrir, Nurlina. dkk. 2003. Seni
Tradisional Sulawesi Selatan. Makassar: Lamacca Press.
Komentar
Posting Komentar